LEADER, (BEHAVIOR & STYLE)

Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan dua elemen yang saling berkaitan. Artinya, kepemimpinan (leader style) merupakan cerminan dari karakter/perilaku pemimpinnya (leader behavior). Perpaduan atau sintesis antara “leader behavior dengan leader style” merupakan kunci keberhasilan pengelolaan organisasi/jamaah; atau dalam skala yang lebih luas adalah pengelolaan daerah atau wilayah, dan bahkan Negara.
Banyak pakar manajemen yang mengemukakan pendapatnya tentang kepemimpinan. Dalam hal ini salah satunya dikemukakan George R. Terry (2006), sebagai berikut: “Kepemimpinan adalah kegiatan-kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok secara sukarela.”
Dari defenisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kepemimpinan ada keterkaitan antara pemimpin dengan berbagai kegiatan yang dihasilkan oleh pemimpin tersebut. Pemimpin adalah seseorang yang dapat mempersatukan orang-orang dan dapat mengarahkannya sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh seorang pemimpin, maka ia harus mempunyai kemampuan untuk mengatur lingkungan kepemimpinannya.
Kepemimpinan menurut Halpin Winer adalah “Kepemimpinan yang menekankan dua dimensi perilaku pimpinan yang dia istilahkan dengan “
initiating structure” (memprakarsai struktur) dan “consideration” (pertimbangan). Memprakarsai struktur adalah perilaku pemimpin dalam menentukan hubungan kerja dengan orang yang dipimpin/jundi dan juga usahanya dalam membentuk pola-pola organisasi, saluran komunikasi dan prosedur kerja yang jelas. Sedangkan pertimbangan adalah perilaku pemimpin dalam menunjukkan persahabatan dan respek dalam hubungan kerja antara pemimpin dan orang yang dipimpin dalam suatu kerja.”
Sehingga dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah “proses mempengaruhi aktivitas seseorang atau kelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.”

Secara umum terdapat 8 ciri mengenai kepemimpinan dari pemimpin yaitu :
(1) Energik, mempunyai kekuatan mental dan fisik;
(2) Stabilitas emosi, tidak mudah berprasangka buruk terhadap orang yang dipimpinnya, tidak mudah terpancing amarah dan mempunyai kepercayaan diri yang cukup besar;
(3) Mempunyai pengetahuan tentang hubungan antara manusia;
(4) Motivasi pribadi, yaitu mempunyai keinginan untuk menjadi pemimpin dan dapat memotivasi diri sendiri;
(5) Kemampuan berkomunikasi, atau kecakapan dalam berkomunikasi dan atau bernegosiasi;
(6) Kemampuan atau kecakapan dalam mengajar, menjelaskan, dan mengembangkan potensi orang2 yang dipimpinnya;
(7) Kemampuan sosial atau keahlian rasa sosial, agar dapat menjamin kepercayaan dan kesetiaan bawahannya, suka menolong, senang jika bawahannya maju, ramah, dan luwes dalam bergaul;
(8) Kemampuan teknik, atau kecakapan menganalisis, merencanakan, mengorganisasikan wewenang, mangambil keputusan dan mampu menyusun konsep.
Kepemimpinan Islam adalah kepemimpinan yang berdasarkan hukum Allah dan bersumber dari Allah. Oleh karena itu, pemimpin haruslah paham tentang hukum Allah dan dekat hubungannya dengan Allah. Sesungguhnya, dalam Islam, figur pemimpin ideal yang menjadi contoh dan suri tauladan yang baik, bahkan menjadi rahmat bagi manusia (rahmatan linnas) dan rahmat bagi alam (rahmatan lil’alamin) adalah Muhammad Rasulullah Saw., sebagaimana dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Di era globalisasi ini, kepemimpinan merupakan gabungan antara kredibilitas dan kapabilitas. Kredibilitas adalah ciri-ciri yang ada pada seorang pemimpin seperti kompetensi-kompetensi, sifatsifat dasar, nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang bisa dipercaya baik oleh orang yang dipimpin maupun oleh lingkungannya.
Mengenai hal ini, terdapat sifat-sifat dasar kepemimpinan yang dikutip Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. dalam bukunya Muhammad : Super Leader Super Manager yaitu :
1.   1. Visioner, selain berpandangan jauh ke depan, ia juga memiliki ide yang jelas tentang apa yang diinginkannya serta mampu bertahan ketika mengalami kemunduran/kegagalan
2.   2. Berkemauan kuat, yang indikatornya dapat dilihat dari jiddiyah (kesungguhkan) dan iltizam (komitmen)
3.   3. Integritas, mencakup integritas moral, prinsip, dan kemampuan belajar.
4.   4. Amanah, artinya ia dapat menjalankan tugas sesuai dengan perintah dan buktinya adalah ia memiliki kepercayaan dari orang lain
5.   5. Rasa ingin tahu, hal ini dekat dengan sifat pembelajar, indikatornya adalah ingin tau banyak dan ingin belajar banyak
6.   6. Berani, dapat dinilai dari inisiatifnya/mau memulai/menjadi pioneer dan keberaniannya mengambil resiko. Sifat Ruhul Istijabah (semangat dan berani menyambut seruan2 kebaikan dalam kondisi apapun)
 
6 poin sifat dasar di atas tentunya setelah aspek ruhiyah (kesholihan) telah tercapai yang indikatornya dapat dilihat dari amalan yaumiyahnya (aspek ibadah) dan akhlaknya (aspek muamalah). Seperti dalam beberapa hadist, Rasulullah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya.” (HR Ahmad dan Abu Daud). Atau “Sesungguhnya seorang hamba yang berakhlak baik akan mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang tinggi di akhirat, walau ibadahnya sedikit.” (HR Thabrani dengan sanad baik). Begitulah nasihat para ahluh sunnah dari hadist Rasulullah tentang bgmn cara kita mengukur kebaikan agama dari seseorang .
Seorang pemimpin hendaknya memiliki kedekatan dgn Allah. Amalan yaumiyah yg baik, harapannya menunjukkan intensitas kedekatannya dgn Allah. Kedekatan ini akan menghasilkan bashiroh yg kuat. Sehingga visioner, kemauan kuat, integritas, amanah, rasa ingin tau, dan sikap pemberaninya atas dasar bashirohnya yang kuat hasil kedekatannya dgn Allah. Visionernya pun tidak sembarang visioner, begitupun sifat amanahnya adalah bukti kedekatannya dgn Allah, dan lain-lain.
 
Selain itu, terdapat dua sifat pemimpin yang perlu dimiliki, yaitu (1)Jiwa melayani, dan (2)mampu dan mau mendengarkan. Jiwa melayani bukan berarti sebagai pelayan, namun menunjukkan bahwa anamah kepemimpinan yang dimilikinya bukanlah prestise (kebanggaan), namun disadarinya sbg tanggung jawab. Mendengarkan berarti ia mendengarkan orang2 yang dilayaninya, namun tidak terpenjara trhdp opini publik. Dua karakter yg memang tidak semua orang memilikinya. Sifat inilah yang jg dicontohkan oleh khalifah terkenal di kalangan para sahabat Rasulullah : Umar bin Khattab. Khalifah yang terkenal dgn kezuhudannya krn mau melayani langsung rakyatnya dan mendengarkan opini rakyatnya (contoh saat perkara hak wanita).
Adapun kapabilitas adalah kamampuan pemimpin dalam menata visi, misi, dan strategi serta dalam mengembangkan sumber-sumber daya manusia untuk kepentingan memajukan organisasi dan atau wilayah kepemimpinannya. Hal ini dapat dilihat dari fungsi kepemimpinan yang diterapkan.
Masih dari buku yang sama, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. mengutip 4 fungsi kepemimpinan menurut Stephen Covey :
1.   1. Fungsi perintis (muassis). Artinya ia mampu mengawali, menginisiasi segala pekerjaan dalam organisasi/jamaahnya. Inisiatif, visoner, dan sifat pioneer termasuk ke dalam fungsi ini. 
2.   2. Fungsi penyelaras. Artinya ia mampu mengelola dan mensinergiskan berbagai bidang dan potensi dalam organisasi/jamaahnya.
3.   3. FUngsi pemberdayaan. Artinya ia mampu mendelegasikan dan mendidik dalam waktu bersamaan kepada orang yang dipimpinnya (jundi). Jika sang pemimpin mampu mendelegasikan dan memberdayakan orang yang dipimpinnya (jundi) dgn baik, hasilnya adalah KOMITMEN para jundi pada organisasi/jamaah tsb.
4.   4. Fungsi panutan. Yang ini mungkin tidak mudah untuk bisa konsisten (istiqomah) dilakukan oleh seorang pemimpin, yaitu menjadi teladan yang baik (qudwah hasanah) dalam organisasi/jamaahnya
 
Kemudian, dalam Islam seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kurangnya 4 (empat) sifat dalam menjalankan kepemimpinannya, yakni : Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah (STAF):
(1) Siddiq (jujur) sehingga ia dapat dipercaya;
(2) Tabligh (penyampai) atau kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi;
(3) Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya;
(4) Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya.
Selain itu, juga dikenal ciri pemimpin Islam dimana Nabi Saw pernah bersabda: “Pemimpin suatu kelompok adalah pelayan kelompok tersebut.” Oleh sebab itu, pemimpin hendaklah ia melayani dan bukan dilayani, serta menolong orang lain untuk maju.

Dr. Hisham Yahya Altalib (1991), mengatakan ada beberapa ciri penting yang menggambarkan kepemimpinan Islam yaitu :
Pertama, Setia kepada Allah. Pemimpin dan orang yang dipimpin terikat dengan kesetiaan kepada Allah;
Kedua, Tujuan Islam secara menyeluruh. Pemimpin melihat tujuan organisasi bukan saja berdasarkan kepentingan kelompok, tetapi juga dalam ruang lingkup kepentingan Islam yang lebih luas;
Ketiga, Berpegang pada syariat dan akhlak Islam. Pemimpin terikat dengan peraturan Islam, dan boleh menjadi pemimpin selama ia berpegang teguh pada perintah syariah.
Keempat, Pengemban amanat. Pemimpin menerima kekuasaan sebagai amanah dari Allah Swt., yang disertai oleh tanggung jawab yang besar. Al-Quran memerintahkan pemimpin melaksanakan tugasnya untuk Allah dan menunjukkan sikap yang baik kepada orang yang dipimpinnya/jundinya.
Dalam Al-Quran Allah Swt berfirman :
“(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. al-Hajj [22]:41).
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah adanya prinsip-prinsip dasar dalam kepemimpinan Islam yakni : Musyawarah; Keadilan; dan Kebebasan berfikir.
Pemimpin Islam bukanlah kepemimpinan sewenang-wenang dan tanpa koordinasi. Tetapi ia mendasari dirinya dengan prinsip-prinsip Islam. Bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya secara obyektif dan dengan penuh rasa hormat, membuat keputusan seadil-adilnya, dan berjuang menciptakan kebebasan berfikir, pertukaran gagasan yang sehat dan bebas, saling kritik dan saling menasihati satu sama lain sedemikian rupa, sehingga orang-orang yang dipimpinnya merasa senang mendiskusikan persoalan yang menjadi kepentingan dan tujuan bersama.
Pemimpin Islam bertanggung jawab bukan hanya kepada pengikut atau bawahannya semata, tetapi yang jauh lebih penting adalah tanggung jawabnya kepada Allah Swt. selaku pengemban amanah kepemimpinan.
Ada satu hal lagi yg mgkn perlu diperhatikan, bahwa dasar dari segala bentuk kepemimpinan adalah Self Leadership (kemampuan seseorang dalam memimpin dirinya sendiri). Mustahil ia bisa memimpin orang lain ketika ia tidak bisa memimpin dirinya sndiri. Artinya ia harus sudah selesai dgn masalah2 internalnya. Baru ia dapat fokus memikirkan sekitarnya.
 
Jadi Forkomers, mari bersemangat membentuk diri yang memiliki karakter pemimpin. Bisa dimulai dari belajar memimpin diri sendiri. Jika tidak memimpin organisasi, atau wilayah dan bahkan negara, maka paling tidak kita menjadi pemimpin bagi diri sendiri bukan? Dan ternyata keseluruhan teori2 kepemimpinan yang disebutkan di atas sudah terangkum dalam pribadi seseorang pemimpin yang ummi, Muhammad saw. Teman2 bisa membaca dari buku bertema kepemimpinan Muhammad, dsj.

So, Selamat berlatih dan mencoba ya..


Tidak ada tulisan yang berkaitan.



Subscribe / Share

Article by ms

Authors bio is coming up shortly.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Jadwal Shalat

Statistik

  • Today Visit: 42
  • Week Visit: 134
  • Month Visit: 1453
  • Total Visit: 2405

Arsip Tulisan

Komentar Terakhir

Video Pekan Ini

Buku Tamu